Minggu, 22 Juli 2012

PANGGUNG REALITA, HUJAN SEBELUM PELANGI


 



Menengok ke belakang bukan untuk terjebak di masa lalu
Tapi untuk mewujudkan awal kehidupan baru
Orang bilang, jika hari sekarang lebih buruk dari hari dulu
Itulah orang yang merugi
              
Ketika terlihat asa jauh dibalik cakrawala
Harapan seluas semesta
Semangat sebesar dunia
Yang senada mengiringi langkah demi langkah masa muda

Tatkala pandangan menerawang masa depan
Tiap insan pastilah mengharapkan
Dunia mendatangnya yang berkenan
Gemilang lentera cahaya penghidupan

Gelap, terang, gelap, terang
Bisa kau katakan lika liku kehidupan
Maka bagi kami seonggok kegelapan
Serta lebatnya derai hujan masa lalu
Akan memberi macam-macam warna

Apa kau takut dengan sisi gelapmu?
Atau, kau masih berbangga dengan perbuatan pengecutmu?

Pecahkan saja bayangan kegelapan itu
Maka ketika senja datang,
Jangan biarkan rasa sesal memelukmu
Jangan biarkan angan yang kau ciptakan
Hanya tertumpah sebagai mimpi

Kau punya terik matahari yang menyapa siangmu
Kau punya gemerlap bintang yang menghiasi malammu
Bahkan jika topan menggerogotimu
Kau harus tetap kokoh dengan pondasi harapanmu

Jangan takut kawan..
Yang penting ungkapkan apa yang ingin kau teriakkan
Jangan biarkan membeku sampai kau bawa mati
Bahkan di tengah hiruk pikuk malam
Kau juga harus berani membangun mimpi

Jangan menyerah pada takdir kawan..
Ketertarikan akan mapannya masa depan
Gunakan sebagai bekal reinkarnasi kehidupan
Jadikan harapan untuk menghilangkan kemelaratan

Jangan menunggu datangnya mukjizat kawan..
Deru dan asa itu sudah biasa
Anggap saja kerikil di jalan aspalmu
Karena kau memiliki sejuta cakra dan cita untuk berkarya

Yakinlah!
Suatu saat bukan mereka yang akan menertawakanmu
Tapi kau akan berdiri di atas panggung realita keemasan
Yang kau bangun dengan berjuta badai di masa lalu
Bukankah diperlukan hujan untuk bisa menciptakan pelangi?