Kamis, 13 Desember 2012

Cermin Persahabatan


“Hei Kartika, kamu sedang apa? Ini jam pelajaran Bahasa Indonesia, kenapa kamu malah asyik menggambar begitu?” Tanya Andini setengah berbisik.
            “Aku sedang ada proyek, sudahlah jangan pedulikan aku! Kalau proyek ini berhasil, kamu akan jadi anak pertama yang kukabari hihi.” Balas Kartika dengan entengnya.
            Suasana nampak sepi di dalam kelas. Semua murid sedang berkonsentrasi mengerjakan soal Bahasa Indonesia. Tapi tidak demikian dengan Kartika. Kartika adalah seorang gadis kelas 11 di sebuah SMA ternama di daerahnya. Dia gadis yang gemar menggambar, humoris, ceria, juga loyal. Kartika terkenal suka melakukan apapun sesuai keinginannya tanpa peduli terhadap resiko yang akan menimpanya.
            “Benar juga. Ini adalah Kartika yang aku kenal. Bagaimanapun juga, lain kali kamu harus bisa mengendalikan hasrat menggambarmu.” Kata Andini menasehati.
            Bel pun berbunyi, namun Kartika tidak pernah melepaskan secarik kertas gambar dan pensil serta kuas yang sedari tadi asyik dia mainkan. Karena saking terlenanya dia dengan proyeknya itu, dia tidak menyadari bahwa Bonita, temannya sejak di sekolah dasar sedang mengajaknya bicara dan memperhatikan aksinya.
            “Anak ini benar-benar ya, dari mulai pelajaran berlangsung sampai istirahat masiiiih aja setia sama kertas buram itu. Ngerjakan apa sih?” Tanya Bonita setengah menyelidik.
            “Hei hei hei! Kamu jangan meledekku ya, aku sedang nggak selera bercanda nih. Aku lagi sibuk.” Jawab Kartika ketus.
            “Sialan kau! Kamu pikir aku bercanda. Itu memang kertas buram kan, penuh coretan dan kamu pun sedang menggambar apa itu nggak jelas sama sekali.”
            “Sudahlah Bon, aku lagi serius nih! Pergi ngantin sana, aku malas berdebat denganmu.”
Bonita pun pergi dengan wajah kusam. Dia memang teman Kartika sejak kecil, yah walaupun cenderung kasar dan judes, sebenarnya dia anak yang perhatian dan suka ngambek. Sesaat kemudian, bel pun berbunyi. Pertanda bahwa pelajaran selanjutnya adalah Matematika. Namun Kartika dengan ketusnya tetap setia menggarap proyeknya itu. Sampai sang guru killer pun datang dan pelajaran dimulai.
“Bisakah kau hentikan proyekmu sekarang? Kita harus mulai serius dengan pelajaran Tik! Jangan sampai kamu kena hukum lagi, bisa gawat kalau tambah 25 soal lagi kan..?”
“Aku nggak peduli, ini bentar lagi juga kelar. Tinggal nambahin unsur estetika doang sih, hihi. Kan kalau aku dapet 25 soal lagi sebagai hukuman, kamu pasti membantuku kaaannn haha. Aku tahu kamu baik, nggak kayak Bonita yang ngeledekin aku mulu.”
Tanya Andini penasaran “Memangnya Bonita bilang apa Tik?”
“Yaaaah seperti biasa, dengan gayanya yang judes dan sok acuh dia bilang aku hanya menggambar lukisan yang nggak jelas. Dia nggak tahu aja kalau aku sedang menggambar batik untuk kusertakan lomba dalam rangka ulang tahun kabupaten kita itu lhoo.” Jelasnya.
“Jadi benar kamu ikut lomba itu Tik?” Desak Andini. “Tapi kamu kan tahu kalau lawan kamu dari seluruh jenjang sekolah kabupaten kita. Jujur, aku tidak ingin meremehkanmu soal menggambar. Kamu tahu aku juga suka menggambar dan mengerti seluk beluk menggambar. Tapi kali ini aku setuju dengan Bonita. Untuk dikirimkan ke tingkat kabupaten sih, gambaranmu masih jauh dari standar. Ini adalah usulan yang membangun Tik, sebaiknya kamu lakukan tugasmu sebagai murid saja. Jangan kau korbankan waktumu, mengabaikan pelajaran demi membuat lukisan yang menurutku masih jauh dari standar.”
            “Hei! Kau ini kenapa malah membela Bonita? Apa kau juga kesal karena aku selalu menyuruhmu membantu mengerjakan tugas Matematikaku?” Tanya Kartika setengah teriak.
            Tanpa disadarinya, Bu Ifa, guru Matematika killer sedari tadi sudah memperhatikannya. Bu Ifa memang tidak pernah menegur siswa, namun apabila ada siswa yang kerap tidak memperhatikan pelajarannya, tanpa basa-basi beliau akan langsung memberikan soal sebagai hukumannya.
            “Kartika, 25 soal ya, dari halaman 56-60!” Perintah Bu Ifa santai.
            “Hah? Apa Bu? Maaf, apa saya melakukan kesalahan?” Tanyanya dengan gaya sok polos.
            “Kamu dari tadi mengganggu Andini yang sedang mengerjakan tugas kan? Itu hukuman karena kamu sudah mengganggu kelas, dan tidak memperhatikan pelajaran Ibu.” Jawabnya tegas.
            “Sudahlah jangan membantah! Biarkan saja, kubilang juga apa. Jangan kau buang waktumu untuk melakukan hal yang kurang berguna, sekarang perhatikan juga pelajaranmu yang lain. Ini kan yang jadi kewajibanmu.” Bisik Andini.
            Kartika hanya bisa membisu, hari ini kedua temannya memang tampak aneh. Entahlah, apa mungkin Kartika yang kurang peka pada mereka berdua. Dia memang terlalu fokus dalam menggambar, karena dia sangat menginginkan menang dalam perlombaan menggambar batik tingkat kabupaten. Namun, kritika pedas dari kedua temannya benar-benar membuatnya  hancur. Sebagai pelukis dia merasa tidak dapat membawa kegembiraan dalam lukisannya.
            Gambaran yang tidak jelas dan sangat jauh di bawah standar. Kata-kata kritikan dari kedua temannya masih terngiang-ngiang di telinga Kartika.
Di hari itu juga, mereka mulai renggang dan saling berdiam diri satu sama lain. Mengetahui kalau tindakannya salah dan saat itu pun juga dia menyadari bahwa dia hanya membuang-buang waktu saja. Beberapa menit kemudian, bel pulang pun berbunyi. Kartika jadi tidak berselera ketika pulang sekolah, wajahnya kusut dan loyo. Dia sudah mulai patah semangat dan berniat tidak akan mengirimkan gambarannya untuk diikut sertakan dalam lomba.
            Ketika sampai di rumah, dengan peluh membasahi sekujur tubuhnya. Dia merenung tentang segala kejadian yang dia alami di sekolah siang tadi. Benar juga, dia selalu saja tidak peduli pada situasi dan kondisi di sekitarnya, asalkan dia bisa melakukan segala apa yang diinginkannya. Dia merasa sudah egois selama ini, bukan hanya pada Andini namun juga pada Bonita teman sejak kecilnya. Dia merasa sangat bersalah pada mereka. Akhirnya dia memutuskan untuk membatalkan rencana mengikuti lomba menggambar batik dan ingin mempersembahkan gambarannya itu kepada Bonita dan Andini.
            Siang itu dia bertemu dengan Bonita dan Andini, tapi ada hal aneh yang dia rasakan. Andini tampak murung dan kecewa, sedangkan Bonita terus menebar senyum padanya. Akhirnya dia mendekati Andini dan ingin bertanya ada apa gerangan wajahnya tampak lesu, letih, dan tidak bersemangat. Tetapi saat didekati, Andini justru lari dan meninggalkan Bonita juga Kartika. Kartika pun mengejar Andini, naik dan terus menaiki tangga, sampai ke atas puncak gedung. Tiba-tiba ketika dia membuka pintu, dia melihat Andini terjun dari lantai 4 gedung sekolahnya.
            “Tidaaaaaaakkkkkkkkkkkkk……….” Teriak Kartika.
            “Tik, kamu kenapa nak? Ini Mama di sini sayang, kamu mimpi buruk ya?” Tanya Mamanya khawatir.
            “Ya Allah Ma, aku bersyukur ini hanyalah mimpi. Aku bermimpi Andini bunuh diri Ma, dia lompat dari lantai 4 gedung sekolah. Dia marah Ma sama aku, dia cemberut dan terlihat lemas. Apa yang terjadi sebenarnya?” Tanya Kartika dengan penuh gemetaran.
            “Kamu ada masalah nak dengan temanmu? Sebaiknya kamu bicarakan saja, coba terbuka dengan temanmu itu. Nak, teman sejati adalah mereka yang mau terbuka di depanmu. Bukan mereka yang berkata manis saja di depanmu, bukan pula mereka yang berkata buruk di belakangmu, tapi mereka yang tetap menjagamu baik secara langsung maupun tidak langsung.” Tegas sang Mama.
            Dengan penuh rasa penasaran, Kartika bertanya pada Mamanya. “Apa maksud Mama? Andini selalu baik denganku. Aku juga tidak pernah mendengar dia berkata buruk di belakangku. Aku rasa aku sudah sangat mengenalnya, lebih dalam dari siapapun.” Jelasnya.
            “Iya sayang, Mama mengerti. Mama hanya ingin menasehati kamu, di dunia ini tidak ada hal yang tidak mungkin. Dalam keadaan tertentu manusia bisa berubah pola pikirnya, dan itu hanya salah satu kekhilafan mereka.” Jawab sang Mama seolah mengerti segalanya.
            Pembicaraan itu pun berakhir dengan berbagai macam perkataan bijak dari sang Mama. Kartika akhirnya memutuskan untuk berbicara dengan Bonita dan Andini. Dia tidak ingin dihantui rasa bersalah lagi dengan mereka berdua.
            Embun pagi membasahi kaca jendela kamar Kartika. Matahari mengintip dari balik jendela. Suasana senyap dan menenangkan. Begitu pun Kartika, pagi ini dia bangun dengan penuh semangat setelah mendapat petuah dari sang Mama. Hari ini dia sudah bertekad untuk terbuka dengan Bonita dan Andini, mencoba berterus terang tentang kejadian yang telah mereka alami.
            Pukul 06.30 Kartika tiba di sekolah kesayangannya, seperti biasa dia selalu menebar senyum pada setiap orang yang dikenalnya. Dia memang gadis yang ceria dan kocak, semua orang mengetahuinya. Tak lupa dia membawa hasil lukisan batiknya yang akan dipersembahkan kepada Bonita dan Andini. Saat itu juga tanpa sadar dia bersimpangan dengan Bonita.
            “Morning, ta! How are you nih? Aku ada something nih buat dibicarain.” Bujuk Kartika.
           “Hei hei.. Ada apa’an, tumben kamu perhatian banget. Biasa sih, cuek abis kalo sama aku.” Jawabnya ketus.
            “Ha? Nggak salah nih Bon, bukannya kamu ya yang selalu cuek sama aku, buktinya kemarin kamu ngeledekin gambaranku.” Tanyanya lagi.
            “Yaaaa itu sih karena kamu nyuekin aku, waktu aku datang pun kamu nggak tahu kan kalo aku ada di dekatmu, kamu malah nyuekin aku dan serius banget sama gambaranmu itu. By the way, gimana tu jadinya gambaranmu? Udah kelar kan?”
            “Wah, jadi ternyata kamu marah sama aku karena aku nyuekin kamu nih, waaaah ternyata ngambekan juga ya ini anak.” Ledek Kartika pada Bonita. “Tapi, kamu bilang kan gambaranku jelek dan nggak jelas kan Bon?” tambahnya.
            “Yaaa itu juga kan gara-gara kamu nyuekin aku, jadi aku nggak sadar udah bilang begitu.” Desaknya. “Coba sini lihat gambaranmu, pasti keren deh. Kapan nih jadi dikirimin? Katanya mau ikut lomba gambar batik kan?” Sambil merebut gambaran Kartika dengan paksa.
            “Iya awalnya sih gitu, tapi nggak jadi. Aku udah nggak percaya diri lagi buat ikutan lomba. Andini bilang gambaranku nggak pantes kalo diikutkan lomba bergengsi itu. Jadi aku berniat untuk memberikannya pada kamu dan Andini.” Jawabnya.
            “Waw!! Omong kosong apa itu? Ini benar-benar gambar yang bagus! Apa kamu sendiri tidak bisa menilai gambaranmu? Ini batik yang bagus dan cocok dengan daerah kita. Denger ya Tik, kamu benar-benar nggak boleh menyerah sampai di sini. Hei hei, ini bukan seperti kamu, Kartika yang aku kenal penuh kepercayaan diri. Kamu pasti berhasil Tik!” Ungkap Bonita dengan penuh rayu.
            “Aku nggak yakin, tapi kenapa Andini bilang gambaranku ini jauh dari standar ya?” Tanyanya setengah terheran-heran.
            Akhirnya setelah dibujuk oleh Bonita, Kartika pun bersedia untuk mengirimkan gambar batiknya, tanpa sepengetahuan Andini. Dengan diantar oleh Bonita, dia bertemu dengan para peserta dari berbagai kalangan. Mulai dari anak SD, SMP, hingga remaja setingkat mereka. Hari itu juga diumumkan siapa yang akan menjadi pemenang lomba menggambar batik. Dan akhirnya jerih payah Kartika pun membuahkan hasil. Tidak buruk, setelah dia merombak gambar batiknya, dia berhasil memperoleh juara 3 dalam perlombaan bergengsi tersebut. Tanpa disangka, mereka menemukan nama Andini tercantum sebagai salah satu peserta lomba menggambar batik.
            “Tik, lihat apa yang kutemukan. Ternyata, Andini juga ikut serta dalam perlombaan ini. Apa artinyaaaa, dia ingin menyingkirkanmu sebagai saingan terberatnya dalam lomba menggambar batik ini?” Tanyanya setengah ragu-ragu.
            “Ini tidak masuk akal Bon, aku tidak pernah melihat Andini menggambar sekalipun, dan kalaupun dia mengikuti lomba, dia pasti cerita kan sama kita. Apa yang terjadi sebenarnya?” Kartika sangat bingung dengan kejadian yang barusan dia alami. “Aku kemarin bermimpi, Andini bunuh diri Bon, aku takut sekali kalau aku membawa dia dalam masalah. Makanya aku bermaksud menuruti apa kemauannya, yaitu untuk mengundurkan diri dari perlombaan ini. Tapi apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Andini malah mengikuti lomba ini? Aku benar-benar bingung Bon.” Tukasnya penuh kesedihan.
            Kepalanya ngilu dan tenggorokannya tercekat. Dia hanya bisa menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa disadari ternyata di belakang mereka berdirilah Andini yang sedari tadi sudah mendengar percakapan antara Bonita dan Kartika.
            “Kau ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi? Ayo kita tanyakan langsung aja pada pelakunya. Itu dia!” Kata Bonita sambil menunjuk ke arah Andini.
            “Andini!” Tanpa ia sadari, suaranya setengah berteriak ketika memanggil Andini. Terdengar gemetar suaranya dan emosi yang meluap-luap. Bercampur aduk dengan kesedihan dan kemarahan yang meluap menjadi satu. “Apa yang sebenarnya terjadi? Tolong kamu jelaskan padaku. Aku ini temanmu Din. Aku dan Bonita selalu mendukung dalam setiap apa yang kamu lakukan, tapi ada apa dengan semua ini? Kamu menyuruhku mundur dari perlombaan ini, bahkan mengatakan bahwa gambaranku jauh dari standar. Sementara sekarang kamu mengikuti perlombaan itu, kamu pun tahu aku sangat ingin memenangkan perlombaan bergengsi ini. Aku rela mengorbankan waktu belajarku demi menggambar batik ini. Tapi kenapa Din, kenapa?” Suara Kartika tercekat oleh tangisnya yang tak tertahan.
            Andini menampilkan wajah yang memelas, dia terlihat sangat terpaksa dan takut. Apa? Takut? Apa yang sebenarnya terjadi pada Andini? Mulutnya setengah mengatup lalu menganga, dia bingung ingin menjelaskan semuanya, namun takut akan kemarahan yang akan dilampiaskan oleh Kartika dan Bonita.
            “Jawablah Din, kami ingin kamu terbuka dengan kami. Selama ini kami anggap kamu adalah teman yang sangat berharga. Tapi betapa tidak bergunanya kami kalau tidak bisa membantumu dan menjeratmu dalam masalah.” Tukas Bonita setengah mendesak.
            “Maaf…” Jawab Andini singkat. Terlihat sekali dari raut wajahnya, dia menyesal dan setengah ragu-ragu. “Aku melakukan ini untuk adikku. Adikku sakit dan butuh biaya untuk operasi. Sedangkan orang tuaku, kalian tahu mereka susah dalam perekonomian. Di rumah, mereka selalu memarahiku, mereka menganggap aku anak yang tidak berguna dan selalu membandingkanku dengan Kartika yang cerdas dalam menggambar dan penuh percaya diri. Maafkan aku…” Tenggorokannya tercekat dengan suara tangis yang mulai melandanya.
            “Aku sudah lama mengetahui lomba ini, jadi aku sudah lama menggambar batik dengan penuh kesungguhan hati dan kepercayaan diri. Namun, setelah melihat gambaran Kartika yang penuh dengan nilai seni dan keindahan yang luar biasa, nyaliku jadi ciut dan entahlah, kenapa aku bisa melakukan hal pengecut seperti itu. Aku hanya iri padamu, dan aku benci karena orangtuaku pun selalu memujimu di depanku. Aku sangat menyayangi adikku. Dengan mengikuti lomba ini, aku ingin membuktikan kepada orang tuaku bahwa aku bisa melakukan hal yang berguna, aku ingin membuat keluargaku bangga. Dan yang paling membuatku ingin menang adalah hadiah yang ditawarkan berupa uang senilai Rp5.000.000,00 yang akan aku gunakan untuk biaya pengobatan adikku.” Kata-katanya terhenti kembali dan tangis Andini mulai pecah lagi.
            Mendengar penjelasan Andini, Bonita dan Kartika hanya bisa membeku, mereka ikut terharu mendengar penjelasan Andini. Sadarlah Kartika mengenai mimpi yang telah ia lihat. Andini memang sedang dalam masalah, Kartika merasa semuanya disebabkan olehnya.
            Bonita pun segera angkat bicara meredam situasi yang mengharukan ini. “Tapi Din, tidak seharusnya juga kamu melakukan hal pengecut seperti itu. Kami ini temanmu, kamu bisa meminta saran, pendapat, dan bantuan dari kami. Kamu hanya perlu bercerita dan terbuka dengan kami. Berbicara jujur akan menjadi jauh lebih bijak dari tindakanmu ini.” Jelasnya.
            “Aku tahu Bon, aku salah. Tapi aku tak ada muka di depan Kartika, aku selalu ingin mengalahkan Kartika dalam segi apapun, karena dia selalu membuat orang tuaku membandingkan aku dengannya. Maafkan aku Tika, tapi ini yang semakin membuatku cemburu padamu.” Jawabnya.
            Kartika yang sedari tadi terdiam akhirnya mulai angkat bicara. Dia mulai memahami situasi ini, dan meninggalkan rasa harunya itu. “Ini benar-benar menjijikkan!” teriaknya tiba-tiba. Hanya kata itu yang kini bisa ia ungkapkan.
            “Hei Tik, sebencinya kamu dengan Andini, kamu tidak boleh menghinanya seperti itu.” Desak Bonita setengah teriak.
            “Tidak! Aku jijik dengan diriku sendiri. Selama ini aku selalu iri denganmu Din, apa kau tidak tahu itu? Kau gadis yang rajin, penuh perhatian dan ramah. Aku sangat  menghormatimu karena sikapmu itu. Aku jijik karena ternyata aku hanya mengidolakan seorang pengecut seperti ini!” Jawabnya kasar.
            “Kau mengidolakan aku? Maafkan aku Tik, aku sudah mengecewakanmu. Aku benar-benar minta maaf.” Ungkap Andini penuh sesal.
            “Baiklah kau harus kuhukum atas tindakan pengecutmu itu. Ini, terimalah hadiah dari lomba ini! Memang aku tidak berhasil meraih juara pertama, ini karena aku ragu dan merombak kembali gambaranku sesuai usulmu. Tidak buruk, aku masih bisa memperoleh juara 3. Sebagai hukumannya, kau harus menerima hadiah ini! Tidak peduli kau bersedia atau tidak,kau harus menerimanya, ini hukuman dariku.” Suara Kartika terdengar gemetar dan serak. Namun tidak mengurangi keseriusannya, baru kali ini dia berbicara serius dan tegas.
            “Sungguh kamu akan memberiku hadiah ini Tik?” Tanya Andini.
            “Ya! Aku serius, ini karena aku membencimu. Kau akan semakin merasa malu bukan melakukan tindakan pengecut itu? Juga, dengan itu adikmu bisa pergi berobat. Paling tidak, bisa mengurangi bebanmu dan setelah masalahmu dengan keluargamu selesai, kamu harus segera bertanggung jawab atas tindakanmu.” Jelas Kartika. “Kamu harus berteman dengan kami lagi dan berjanji untuk terus terbuka dan menganggap kami sebagai sahabatmu, berkeluh kesah, tertawa, dan menangis hanya dengan kami. Itulah hukuman bagimu.” Tidak kuat menahannya, air mata Kartika pun pecah. Dia memang sudah menahaannya sekuat tenaga.
            “Kau benar-benar membuatku malu Tik, aku malu berbuat jahat seperti ini padamu. Aku sungguh tidak sanggup melawan kebaikanmu, pada akhirnya aku lah yang kalah.”
            “Bukan, ini bukan masalah kalah atau menang. Karena dalam persahabatan, wajar saja kita merasa iri dan cemburu namun kita sama di mata teman kita. Teman tidak akan memilih dan memutuskan siapa pemenang atau siapa yang kalah, tidak akan membedakan satu sama lain. Kita hanya teman yang saling memaafkan ketika melakukan kesalahan, menceritakan hal-hal yang membuat kita bahagia dan saling berbagi ketika ada masalah. Jika kamu tidak bisa terbuka dengan kami, maka kamu tidak menganggap kami sebagai sahabatmu.” Ujar Bonita memecah ketegangan antara Kartika dan Andini.
            “Lagi pula, setiap orang memiliki kelebihan di masing-masing bidang. Kamu pandai di bidang akademis Din, semua orang percaya itu. Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk jadi pandai menggambar hanya demi untuk mendapat pujian dari orang tuamu. Tunjukkan pada mereka, bahwa kamu punya kelebihan di bidangmu sendiri. Justru itu akan membuat kamu tampak lebih hebat ketika kamu dapat menemukan sendiri bakatmu.” Tambah Bonita.
            “Te..teeerima kasih teman-teman.” Jawab Andini. Andini sadar akan perbuatannya dan dia kini bisa terbuka akan bakatnya serta menemukan makna dari persahabatan mereka ini. Tak bisa ditahan, untuk kesekian kalinya, tangis ketiganya pecah. Bersamaan dengan itu, mereka saling berpelukan.
            Mereka pun akhirnya saling memaafkan satu sama lain, berjanji untuk terbuka terhadap teman, berjanji untuk tidak mudah cemburu dan memihak salah satu dari mereka. Karena teman adalah tempat kita mengungkapkan isi hati kita, tertawa, bercanda, dan menangis bersama. Berbagi suka dan duka. Jika kita hanya menuai rasa sedih dan sakit dalam pertemanan, jika seorang teman hanya berada dekat dengan kita saat kita senang, itu patut dipertanyakan. Apakah benar itu sahabat sejati? Karena dalam persahabatan, baik suka maupun duka, seorang teman akan selalu ada menemani kita.
Setelah kejadian itu, mereka bertiga kembali berteman dan menjalani hari-hari seperti biasa. Mereka semakin dewasa, dan memahami sikap masing-masing. Andini kembali tersenyum seperti dulu, kembali ramah dan rajin dalam sekolah. Bonita kembali judes dan jahil, dia memang perhatian namun selalu saja salah dalam mengungkapkannya. Tapi itu tidak masalah bagi mereka, mereka sudah paham akan sikap Bonita yang sebenarnya perhatian namun malu mengungkapkannya. Kartika tetap kocak dan ceria, ia kembali menuai berbagai kemenangan dalam lomba menggambar tentunya. Yang tidak berubah, dia tetap rajin, rajin mendapat soal dari Bu Ifa, mungkin inilah yang akan menjadikannya peduli pada lingkungan sekitar kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar