“Hei
Kartika, kamu sedang apa? Ini jam pelajaran Bahasa Indonesia, kenapa kamu malah
asyik menggambar begitu?” Tanya Andini setengah berbisik.
“Aku sedang ada proyek, sudahlah
jangan pedulikan aku! Kalau proyek ini berhasil, kamu akan jadi anak pertama
yang kukabari hihi.” Balas Kartika dengan entengnya.
Suasana nampak sepi di dalam kelas.
Semua murid sedang berkonsentrasi mengerjakan soal Bahasa Indonesia. Tapi tidak
demikian dengan Kartika. Kartika adalah seorang gadis kelas 11 di sebuah SMA
ternama di daerahnya. Dia gadis yang gemar menggambar, humoris, ceria, juga
loyal. Kartika terkenal suka melakukan apapun sesuai keinginannya tanpa peduli
terhadap resiko yang akan menimpanya.
“Benar juga. Ini adalah Kartika yang
aku kenal. Bagaimanapun juga, lain kali kamu harus bisa mengendalikan hasrat
menggambarmu.” Kata Andini menasehati.
Bel pun berbunyi, namun Kartika
tidak pernah melepaskan secarik kertas gambar dan pensil serta kuas yang sedari
tadi asyik dia mainkan. Karena saking terlenanya dia dengan proyeknya itu, dia
tidak menyadari bahwa Bonita, temannya sejak di sekolah dasar sedang mengajaknya
bicara dan memperhatikan aksinya.
“Anak ini benar-benar ya, dari mulai
pelajaran berlangsung sampai istirahat masiiiih aja setia sama kertas buram
itu. Ngerjakan apa sih?” Tanya Bonita setengah menyelidik.
“Hei hei hei! Kamu jangan meledekku
ya, aku sedang nggak selera bercanda nih. Aku lagi sibuk.” Jawab Kartika ketus.
“Sialan kau! Kamu pikir aku
bercanda. Itu memang kertas buram kan, penuh coretan dan kamu pun sedang menggambar
apa itu nggak jelas sama sekali.”
“Sudahlah Bon, aku lagi serius nih! Pergi
ngantin sana, aku malas berdebat denganmu.”
Bonita
pun pergi dengan wajah kusam. Dia memang teman Kartika sejak kecil, yah
walaupun cenderung kasar dan judes, sebenarnya dia anak yang perhatian dan suka
ngambek. Sesaat kemudian, bel pun berbunyi. Pertanda bahwa pelajaran
selanjutnya adalah Matematika. Namun Kartika dengan ketusnya tetap setia
menggarap proyeknya itu. Sampai sang guru killer
pun datang dan pelajaran dimulai.
“Bisakah
kau hentikan proyekmu sekarang? Kita harus mulai serius dengan pelajaran Tik!
Jangan sampai kamu kena hukum lagi, bisa gawat kalau tambah 25 soal lagi kan..?”
“Aku
nggak peduli, ini bentar lagi juga kelar. Tinggal nambahin unsur estetika doang
sih, hihi. Kan kalau aku dapet 25 soal lagi sebagai hukuman, kamu pasti
membantuku kaaannn haha. Aku tahu kamu baik, nggak kayak Bonita yang ngeledekin
aku mulu.”
Tanya
Andini penasaran “Memangnya Bonita bilang apa Tik?”
“Yaaaah
seperti biasa, dengan gayanya yang judes dan sok acuh dia bilang aku hanya
menggambar lukisan yang nggak jelas. Dia nggak tahu aja kalau aku sedang
menggambar batik untuk kusertakan lomba dalam rangka ulang tahun kabupaten kita
itu lhoo.” Jelasnya.
“Jadi
benar kamu ikut lomba itu Tik?” Desak Andini. “Tapi kamu kan tahu kalau lawan
kamu dari seluruh jenjang sekolah kabupaten kita. Jujur, aku tidak ingin
meremehkanmu soal menggambar. Kamu tahu aku juga suka menggambar dan mengerti
seluk beluk menggambar. Tapi kali ini aku setuju dengan Bonita. Untuk
dikirimkan ke tingkat kabupaten sih, gambaranmu masih jauh dari standar. Ini
adalah usulan yang membangun Tik, sebaiknya kamu lakukan tugasmu sebagai murid
saja. Jangan kau korbankan waktumu, mengabaikan pelajaran demi membuat lukisan
yang menurutku masih jauh dari standar.”
“Hei! Kau ini kenapa malah membela
Bonita? Apa kau juga kesal karena aku selalu menyuruhmu membantu mengerjakan
tugas Matematikaku?” Tanya Kartika setengah teriak.
Tanpa disadarinya, Bu Ifa, guru
Matematika killer sedari tadi sudah
memperhatikannya. Bu Ifa memang tidak pernah menegur siswa, namun apabila ada
siswa yang kerap tidak memperhatikan pelajarannya, tanpa basa-basi beliau akan
langsung memberikan soal sebagai hukumannya.
“Kartika, 25 soal ya, dari halaman
56-60!” Perintah Bu Ifa santai.
“Hah? Apa Bu? Maaf, apa saya
melakukan kesalahan?” Tanyanya dengan gaya sok polos.
“Kamu dari tadi mengganggu Andini
yang sedang mengerjakan tugas kan? Itu hukuman karena kamu sudah mengganggu
kelas, dan tidak memperhatikan pelajaran Ibu.” Jawabnya tegas.
“Sudahlah jangan membantah! Biarkan
saja, kubilang juga apa. Jangan kau buang waktumu untuk melakukan hal yang
kurang berguna, sekarang perhatikan juga pelajaranmu yang lain. Ini kan yang
jadi kewajibanmu.” Bisik Andini.
Kartika hanya bisa membisu, hari ini
kedua temannya memang tampak aneh. Entahlah, apa mungkin Kartika yang kurang
peka pada mereka berdua. Dia memang terlalu fokus dalam menggambar, karena dia
sangat menginginkan menang dalam perlombaan menggambar batik tingkat kabupaten.
Namun, kritika pedas dari kedua temannya benar-benar membuatnya hancur. Sebagai pelukis dia merasa tidak dapat
membawa kegembiraan dalam lukisannya.
Gambaran yang tidak jelas dan sangat
jauh di bawah standar. Kata-kata kritikan dari kedua temannya masih
terngiang-ngiang di telinga Kartika.
Di hari itu
juga, mereka mulai renggang dan saling berdiam diri satu sama lain. Mengetahui kalau
tindakannya salah dan saat itu pun juga dia menyadari bahwa dia hanya
membuang-buang waktu saja. Beberapa menit kemudian, bel pulang pun berbunyi.
Kartika jadi tidak berselera ketika pulang sekolah, wajahnya kusut dan loyo. Dia
sudah mulai patah semangat dan berniat tidak akan mengirimkan gambarannya untuk
diikut sertakan dalam lomba.
Ketika sampai di rumah, dengan peluh
membasahi sekujur tubuhnya. Dia merenung tentang segala kejadian yang dia alami
di sekolah siang tadi. Benar juga, dia selalu saja tidak peduli pada situasi
dan kondisi di sekitarnya, asalkan dia bisa melakukan segala apa yang
diinginkannya. Dia merasa sudah egois selama ini, bukan hanya pada Andini namun
juga pada Bonita teman sejak kecilnya. Dia merasa sangat bersalah pada mereka.
Akhirnya dia memutuskan untuk membatalkan rencana mengikuti lomba menggambar
batik dan ingin mempersembahkan gambarannya itu kepada Bonita dan Andini.
Siang itu dia bertemu dengan Bonita
dan Andini, tapi ada hal aneh yang dia rasakan. Andini tampak murung dan
kecewa, sedangkan Bonita terus menebar senyum padanya. Akhirnya dia mendekati
Andini dan ingin bertanya ada apa gerangan wajahnya tampak lesu, letih, dan
tidak bersemangat. Tetapi saat didekati, Andini justru lari dan meninggalkan
Bonita juga Kartika. Kartika pun mengejar Andini, naik dan terus menaiki
tangga, sampai ke atas puncak gedung. Tiba-tiba ketika dia membuka pintu, dia
melihat Andini terjun dari lantai 4 gedung sekolahnya.
“Tidaaaaaaakkkkkkkkkkkkk……….” Teriak
Kartika.
“Tik, kamu kenapa nak? Ini Mama di
sini sayang, kamu mimpi buruk ya?” Tanya Mamanya khawatir.
“Ya Allah Ma, aku bersyukur ini
hanyalah mimpi. Aku bermimpi Andini bunuh diri Ma, dia lompat dari lantai 4
gedung sekolah. Dia marah Ma sama aku, dia cemberut dan terlihat lemas. Apa
yang terjadi sebenarnya?” Tanya Kartika dengan penuh gemetaran.
“Kamu ada masalah nak dengan
temanmu? Sebaiknya kamu bicarakan saja, coba terbuka dengan temanmu itu. Nak,
teman sejati adalah mereka yang mau terbuka di depanmu. Bukan mereka yang
berkata manis saja di depanmu, bukan pula mereka yang berkata buruk di
belakangmu, tapi mereka yang tetap menjagamu baik secara langsung maupun tidak
langsung.” Tegas sang Mama.
Dengan penuh rasa penasaran, Kartika
bertanya pada Mamanya. “Apa maksud Mama? Andini selalu baik denganku. Aku juga
tidak pernah mendengar dia berkata buruk di belakangku. Aku rasa aku sudah
sangat mengenalnya, lebih dalam dari siapapun.” Jelasnya.
“Iya sayang, Mama mengerti. Mama
hanya ingin menasehati kamu, di dunia ini tidak ada hal yang tidak mungkin.
Dalam keadaan tertentu manusia bisa berubah pola pikirnya, dan itu hanya salah
satu kekhilafan mereka.” Jawab sang Mama seolah mengerti segalanya.
Pembicaraan itu pun berakhir dengan
berbagai macam perkataan bijak dari sang Mama. Kartika akhirnya memutuskan
untuk berbicara dengan Bonita dan Andini. Dia tidak ingin dihantui rasa
bersalah lagi dengan mereka berdua.
Embun pagi membasahi kaca jendela
kamar Kartika. Matahari mengintip dari balik jendela. Suasana senyap dan
menenangkan. Begitu pun Kartika, pagi ini dia bangun dengan penuh semangat setelah
mendapat petuah dari sang Mama. Hari ini dia sudah bertekad untuk terbuka
dengan Bonita dan Andini, mencoba berterus terang tentang kejadian yang telah
mereka alami.
Pukul 06.30 Kartika tiba di sekolah kesayangannya,
seperti biasa dia selalu menebar senyum pada setiap orang yang dikenalnya. Dia
memang gadis yang ceria dan kocak, semua orang mengetahuinya. Tak lupa dia
membawa hasil lukisan batiknya yang akan dipersembahkan kepada Bonita dan
Andini. Saat itu juga tanpa sadar dia bersimpangan dengan Bonita.
“Morning,
ta! How are you nih? Aku ada something nih buat dibicarain.” Bujuk
Kartika.
“Hei hei.. Ada apa’an, tumben kamu perhatian banget. Biasa sih,
cuek abis kalo sama aku.” Jawabnya ketus.
“Ha? Nggak salah nih Bon, bukannya
kamu ya yang selalu cuek sama aku, buktinya kemarin kamu ngeledekin
gambaranku.” Tanyanya lagi.
“Yaaaa itu sih karena kamu nyuekin
aku, waktu aku datang pun kamu nggak tahu kan kalo aku ada di dekatmu, kamu
malah nyuekin aku dan serius banget sama gambaranmu itu. By the way, gimana tu jadinya gambaranmu? Udah kelar kan?”
“Wah, jadi ternyata kamu marah sama
aku karena aku nyuekin kamu nih, waaaah ternyata ngambekan juga ya ini anak.”
Ledek Kartika pada Bonita. “Tapi, kamu bilang kan gambaranku jelek dan nggak
jelas kan Bon?” tambahnya.
“Yaaa itu juga kan gara-gara kamu
nyuekin aku, jadi aku nggak sadar udah bilang begitu.” Desaknya. “Coba sini
lihat gambaranmu, pasti keren deh. Kapan nih jadi dikirimin? Katanya mau ikut
lomba gambar batik kan?” Sambil merebut gambaran Kartika dengan paksa.
“Iya awalnya sih gitu, tapi nggak
jadi. Aku udah nggak percaya diri lagi buat ikutan lomba. Andini bilang
gambaranku nggak pantes kalo diikutkan lomba bergengsi itu. Jadi aku berniat
untuk memberikannya pada kamu dan Andini.” Jawabnya.
“Waw!! Omong kosong apa itu? Ini
benar-benar gambar yang bagus! Apa kamu sendiri tidak bisa menilai gambaranmu?
Ini batik yang bagus dan cocok dengan daerah kita. Denger ya Tik, kamu
benar-benar nggak boleh menyerah sampai di sini. Hei hei, ini bukan seperti
kamu, Kartika yang aku kenal penuh kepercayaan diri. Kamu pasti berhasil Tik!” Ungkap
Bonita dengan penuh rayu.
“Aku nggak yakin, tapi kenapa Andini
bilang gambaranku ini jauh dari standar ya?” Tanyanya setengah terheran-heran.
Akhirnya setelah dibujuk oleh
Bonita, Kartika pun bersedia untuk mengirimkan gambar batiknya, tanpa
sepengetahuan Andini. Dengan diantar oleh Bonita, dia bertemu dengan para
peserta dari berbagai kalangan. Mulai dari anak SD, SMP, hingga remaja
setingkat mereka. Hari itu juga diumumkan siapa yang akan menjadi pemenang
lomba menggambar batik. Dan akhirnya jerih payah Kartika pun membuahkan hasil.
Tidak buruk, setelah dia merombak gambar batiknya, dia berhasil memperoleh
juara 3 dalam perlombaan bergengsi tersebut. Tanpa disangka, mereka menemukan
nama Andini tercantum sebagai salah satu peserta lomba menggambar batik.
“Tik, lihat apa yang kutemukan.
Ternyata, Andini juga ikut serta dalam perlombaan ini. Apa artinyaaaa, dia
ingin menyingkirkanmu sebagai saingan terberatnya dalam lomba menggambar batik
ini?” Tanyanya setengah ragu-ragu.
“Ini tidak masuk akal Bon, aku tidak
pernah melihat Andini menggambar sekalipun, dan kalaupun dia mengikuti lomba,
dia pasti cerita kan sama kita. Apa yang terjadi sebenarnya?” Kartika sangat
bingung dengan kejadian yang barusan dia alami. “Aku kemarin bermimpi, Andini
bunuh diri Bon, aku takut sekali kalau aku membawa dia dalam masalah. Makanya
aku bermaksud menuruti apa kemauannya, yaitu untuk mengundurkan diri dari
perlombaan ini. Tapi apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Andini malah mengikuti
lomba ini? Aku benar-benar bingung Bon.” Tukasnya penuh kesedihan.
Kepalanya ngilu dan tenggorokannya
tercekat. Dia hanya bisa menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa
disadari ternyata di belakang mereka berdirilah Andini yang sedari tadi sudah
mendengar percakapan antara Bonita dan Kartika.
“Kau ingin tahu apa yang sebenarnya
terjadi? Ayo kita tanyakan langsung aja pada pelakunya. Itu dia!” Kata Bonita
sambil menunjuk ke arah Andini.
“Andini!” Tanpa ia sadari, suaranya
setengah berteriak ketika memanggil Andini. Terdengar gemetar suaranya dan
emosi yang meluap-luap. Bercampur aduk dengan kesedihan dan kemarahan yang meluap
menjadi satu. “Apa yang sebenarnya terjadi? Tolong kamu jelaskan padaku. Aku
ini temanmu Din. Aku dan Bonita selalu mendukung dalam setiap apa yang kamu
lakukan, tapi ada apa dengan semua ini? Kamu menyuruhku mundur dari perlombaan
ini, bahkan mengatakan bahwa gambaranku jauh dari standar. Sementara sekarang
kamu mengikuti perlombaan itu, kamu pun tahu aku sangat ingin memenangkan
perlombaan bergengsi ini. Aku rela mengorbankan waktu belajarku demi menggambar
batik ini. Tapi kenapa Din, kenapa?” Suara Kartika tercekat oleh tangisnya yang
tak tertahan.
Andini menampilkan wajah yang
memelas, dia terlihat sangat terpaksa dan takut. Apa? Takut? Apa yang
sebenarnya terjadi pada Andini? Mulutnya setengah mengatup lalu menganga, dia
bingung ingin menjelaskan semuanya, namun takut akan kemarahan yang akan dilampiaskan
oleh Kartika dan Bonita.
“Jawablah Din, kami ingin kamu
terbuka dengan kami. Selama ini kami anggap kamu adalah teman yang sangat
berharga. Tapi betapa tidak bergunanya kami kalau tidak bisa membantumu dan
menjeratmu dalam masalah.” Tukas Bonita setengah mendesak.
“Maaf…” Jawab Andini singkat.
Terlihat sekali dari raut wajahnya, dia menyesal dan setengah ragu-ragu. “Aku
melakukan ini untuk adikku. Adikku sakit dan butuh biaya untuk operasi.
Sedangkan orang tuaku, kalian tahu mereka susah dalam perekonomian. Di rumah,
mereka selalu memarahiku, mereka menganggap aku anak yang tidak berguna dan
selalu membandingkanku dengan Kartika yang cerdas dalam menggambar dan penuh
percaya diri. Maafkan aku…” Tenggorokannya tercekat dengan suara tangis yang
mulai melandanya.
“Aku sudah lama mengetahui lomba
ini, jadi aku sudah lama menggambar batik dengan penuh kesungguhan hati dan
kepercayaan diri. Namun, setelah melihat gambaran Kartika yang penuh dengan
nilai seni dan keindahan yang luar biasa, nyaliku jadi ciut dan entahlah,
kenapa aku bisa melakukan hal pengecut seperti itu. Aku hanya iri padamu, dan
aku benci karena orangtuaku pun selalu memujimu di depanku. Aku sangat
menyayangi adikku. Dengan mengikuti lomba ini, aku ingin membuktikan kepada
orang tuaku bahwa aku bisa melakukan hal yang berguna, aku ingin membuat
keluargaku bangga. Dan yang paling membuatku ingin menang adalah hadiah yang
ditawarkan berupa uang senilai Rp5.000.000,00 yang akan aku gunakan untuk biaya
pengobatan adikku.” Kata-katanya terhenti kembali dan tangis Andini mulai pecah
lagi.
Mendengar penjelasan Andini, Bonita
dan Kartika hanya bisa membeku, mereka ikut terharu mendengar penjelasan
Andini. Sadarlah Kartika mengenai mimpi yang telah ia lihat. Andini memang
sedang dalam masalah, Kartika merasa semuanya disebabkan olehnya.
Bonita pun segera angkat bicara
meredam situasi yang mengharukan ini. “Tapi Din, tidak seharusnya juga kamu
melakukan hal pengecut seperti itu. Kami ini temanmu, kamu bisa meminta saran,
pendapat, dan bantuan dari kami. Kamu hanya perlu bercerita dan terbuka dengan
kami. Berbicara jujur akan menjadi jauh lebih bijak dari tindakanmu ini.”
Jelasnya.
“Aku tahu Bon, aku salah. Tapi aku
tak ada muka di depan Kartika, aku selalu ingin mengalahkan Kartika dalam segi
apapun, karena dia selalu membuat orang tuaku membandingkan aku dengannya.
Maafkan aku Tika, tapi ini yang semakin membuatku cemburu padamu.” Jawabnya.
Kartika yang sedari tadi terdiam
akhirnya mulai angkat bicara. Dia mulai memahami situasi ini, dan meninggalkan
rasa harunya itu. “Ini benar-benar menjijikkan!” teriaknya tiba-tiba. Hanya
kata itu yang kini bisa ia ungkapkan.
“Hei Tik, sebencinya kamu dengan
Andini, kamu tidak boleh menghinanya seperti itu.” Desak Bonita setengah
teriak.
“Tidak! Aku jijik dengan diriku
sendiri. Selama ini aku selalu iri denganmu Din, apa kau tidak tahu itu? Kau
gadis yang rajin, penuh perhatian dan ramah. Aku sangat menghormatimu karena sikapmu itu. Aku jijik
karena ternyata aku hanya mengidolakan seorang pengecut seperti ini!” Jawabnya
kasar.
“Kau mengidolakan aku? Maafkan aku
Tik, aku sudah mengecewakanmu. Aku benar-benar minta maaf.” Ungkap Andini penuh
sesal.
“Baiklah kau harus kuhukum atas
tindakan pengecutmu itu. Ini, terimalah hadiah dari lomba ini! Memang aku tidak
berhasil meraih juara pertama, ini karena aku ragu dan merombak kembali
gambaranku sesuai usulmu. Tidak buruk, aku masih bisa memperoleh juara 3.
Sebagai hukumannya, kau harus menerima hadiah ini! Tidak peduli kau bersedia
atau tidak,kau harus menerimanya, ini hukuman dariku.” Suara Kartika terdengar
gemetar dan serak. Namun tidak mengurangi keseriusannya, baru kali ini dia
berbicara serius dan tegas.
“Sungguh kamu akan memberiku hadiah
ini Tik?” Tanya Andini.
“Ya! Aku serius, ini karena aku
membencimu. Kau akan semakin merasa malu bukan melakukan tindakan pengecut itu?
Juga, dengan itu adikmu bisa pergi berobat. Paling tidak, bisa mengurangi
bebanmu dan setelah masalahmu dengan keluargamu selesai, kamu harus segera bertanggung
jawab atas tindakanmu.” Jelas Kartika. “Kamu harus berteman dengan kami lagi
dan berjanji untuk terus terbuka dan menganggap kami sebagai sahabatmu,
berkeluh kesah, tertawa, dan menangis hanya dengan kami. Itulah hukuman
bagimu.” Tidak kuat menahannya, air mata Kartika pun pecah. Dia memang sudah
menahaannya sekuat tenaga.
“Kau benar-benar membuatku malu Tik,
aku malu berbuat jahat seperti ini padamu. Aku sungguh tidak sanggup melawan
kebaikanmu, pada akhirnya aku lah yang kalah.”
“Bukan, ini bukan masalah kalah atau
menang. Karena dalam persahabatan, wajar saja kita merasa iri dan cemburu namun
kita sama di mata teman kita. Teman tidak akan memilih dan memutuskan siapa
pemenang atau siapa yang kalah, tidak akan membedakan satu sama lain. Kita hanya
teman yang saling memaafkan ketika melakukan kesalahan, menceritakan hal-hal
yang membuat kita bahagia dan saling berbagi ketika ada masalah. Jika kamu
tidak bisa terbuka dengan kami, maka kamu tidak menganggap kami sebagai
sahabatmu.” Ujar Bonita memecah ketegangan antara Kartika dan Andini.
“Lagi pula, setiap orang memiliki
kelebihan di masing-masing bidang. Kamu pandai di bidang akademis Din, semua
orang percaya itu. Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk jadi pandai
menggambar hanya demi untuk mendapat pujian dari orang tuamu. Tunjukkan pada
mereka, bahwa kamu punya kelebihan di bidangmu sendiri. Justru itu akan membuat
kamu tampak lebih hebat ketika kamu dapat menemukan sendiri bakatmu.” Tambah
Bonita.
“Te..teeerima kasih teman-teman.”
Jawab Andini. Andini sadar akan perbuatannya dan dia kini bisa terbuka akan
bakatnya serta menemukan makna dari persahabatan mereka ini. Tak bisa ditahan,
untuk kesekian kalinya, tangis ketiganya pecah. Bersamaan dengan itu, mereka
saling berpelukan.
Mereka pun akhirnya saling memaafkan
satu sama lain, berjanji untuk terbuka terhadap teman, berjanji untuk tidak mudah
cemburu dan memihak salah satu dari mereka. Karena teman adalah tempat kita
mengungkapkan isi hati kita, tertawa, bercanda, dan menangis bersama. Berbagi
suka dan duka. Jika kita hanya menuai rasa sedih dan sakit dalam pertemanan,
jika seorang teman hanya berada dekat dengan kita saat kita senang, itu patut
dipertanyakan. Apakah benar itu sahabat sejati? Karena dalam persahabatan, baik
suka maupun duka, seorang teman akan selalu ada menemani kita.
Setelah
kejadian itu, mereka bertiga kembali berteman dan menjalani hari-hari seperti
biasa. Mereka semakin dewasa, dan memahami sikap masing-masing. Andini kembali
tersenyum seperti dulu, kembali ramah dan rajin dalam sekolah. Bonita kembali
judes dan jahil, dia memang perhatian namun selalu saja salah dalam
mengungkapkannya. Tapi itu tidak masalah bagi mereka, mereka sudah paham akan
sikap Bonita yang sebenarnya perhatian namun malu mengungkapkannya. Kartika tetap
kocak dan ceria, ia kembali menuai berbagai kemenangan dalam lomba menggambar
tentunya. Yang tidak berubah, dia tetap rajin, rajin mendapat soal dari Bu Ifa,
mungkin inilah yang akan menjadikannya peduli pada lingkungan sekitar kelak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar