Senin, 17 Desember 2012

Ketika Uang Receh Menjadi yang Sangat Diharapkan




Ini adalah sebuah kisah di mana receh menjadi yang paling dihargai di dunia ini. Apa? Receh? Maksudnya, uang receh seratus rupiah, dua ratus rupiah, dan lima ratus rupiah itukah? Ya, uang recehan itu.
          Ketika itu pagi mulai menemani seorang nenek tua yang tidur di emperan sebuah toko. Wajar saja, dia sudah tidak mempunyai tempat tinggal dan anak-anaknya tidak lagi peduli terhadapnya. Sang nenek sudah tidak mempunyai harta benda apapun, dengan berbekal beberapa helai pakaian, dan uang hasil pemberian orang-orang yang ikhlas, dia hidup. Ya, dia bahkan hanya bisa hidup dari meminta-minta. Bayangkan saja, seorang nenek tua yang renta, tidak memiliki tempat tinggal dan bahkan ditelantarkan oleh anaknya sendiri. Sekarang hidupnya bagai sebatang kara, dan yang bisa dia lakukan hanya bersyukur dengan cara bertahan sampai pada saat Tuhan memanggilnya.
Saat itu sang pemilik toko ingin memulai usahanya, dia sangat kaget karena tiba-tiba sesosok tubuh renta terbaring di depan tokonya. Bisa saja, dia mengusir sang nenek dan mendapatkan kembali tokonya dalam keadaan bersih dan bisa bekerja dengan leluasa. Tapi tidak, pemilik toko justru memberi nenek itu sebungkus nasi dan beberapa kilogram beras serta uang recehan. Ya, beberapa uang receh.
Kalian bebas menggambarkan, apa yang sebenarnya pemilik toko pikirkan, kenapa dia memberi uang receh dalam jumlah yang besar, kenapa tidak uang ratusan ribu yang bahkan satu lembar akan sangat cukup untuk sang nenek. Dan dari sinilah, kisah uang receh dimulai.
          “Maaf mengganggu tidur anda yang nyaman, nek. Mungkin sedikit dari saya ini dapat membantu anda kelak.” Sapa sang pemilik toko dengan halus.
          “Terima kasih, Tuan yang baik. Sungguh Tuhan akan membalas kebaikan anda. Ini sudah lebih dari cukup untuk saya.” Balas sang nenek.
          “Sama-sama nek.” Balasnya dengan penuh senyum.
Tapi ketika sang nenek beranjak dari toko tersebut, anak dari pemilik toko muncul dan menghardiknya. Entah apa yang dipikirkan anak itu, dia tiba-tiba meneriakinya dan menghardiknya mentah-mentah.
          “Dasar nenek tua bangka. Kenapa tidur di depan tokoku dan mengganggu bisnis Ayah. Cepat pergi dan jangan berani-berani tidur di sini lagi!” hardiknya.
          “Sayang, kenapa kau berkata kasar seperti itu, nenek itu tidak mengganggu bisnis Ayah.” Ungkap sang pemilik toko.
          “Tidak Yah, kalau tidak diperlakukan seperti ini, aku yakin bahwa dia akan kembali lagi ke sini,tidur dan meminta makanan juga uang lagi. Dia akan melakukan itu setiap hari, dan lama-lama akan mengganggu bisnis toko Ayah ini. Lebih baik langsung saja beri dia uang seratus ribu dan bilang padanya agar jangan pernah kembali lagi ke sini.” Ungkap sang anak sambil melemparkan uang seratus ribu.
          Tiba-tiba nenek itu mengambil uang yang dilemparkan sang anak, dan mengembalikannya. Sambil menahan sakit hati sang nenek itupun berkata,
“Tidak nak, kau salah. Tidak semua orang memandang uang dari segi nominalnya. Mungkin kau benar aku seorang pengemis, tapi aku tetap manusia. Manusia yang bermartabat dan memiliki harga diri. Nenek minta maaf jika kau merasa nenek telah mengganggu bisnis ayahmu, nenek tidak bermaksud seperti itu.” Dan nenek itu pun pergi dengan membawa uang recehan yang pemilik toko itu beri.
“Benar, nak. Ayah tidak menganggap nenek itu mengganggu bisnis Ayah. Dan kamu perlu tahu bahwa nenek itupun mengganggap bahwa yang Ayah berikan padanya itu sudah lebih dari cukup. Memang itu adalah bantuan yang kecil bagi ayah, tapi itu adalah anugerah yang begitu besar untuk sang nenek yang sangat membutuhkan makan dan uang. Ini adalah masalah memberi kepada yang membutuhkan dengan rasa ikhlas dan tanpa pamrih. Apa kamu mengerti?” Sang ayah menjelaskan dengan bijak kepada sang anak.
Dari sinilah, uang receh menjadi yang sangat berharga melebihi apapun di dunia. Mungkin orang-orang akan menganggap bahwa banyak orang berbagi namun seminimal mungkin, yaitu dengan memberi uang receh untuk para pengemis. Uang receh dianggap yang paling mudah keluar bagi para saudara yang membutuhkan. Tapi, bukan itu yang jadi intinya. Berbagi bukan dilihat dari segi nominalnya, mungkin bagi kita uang receh itu tidak berguna, tapi bagi yang membutuhkan itu akan menjadi hal yang paling diinginkan. Apalagi uang receh yang diberikan secara ikhlas dan tanpa pamrih.
Jadi cobalah merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang kau miliki sekarang, itu akan memunculkan rasa bahagia pada dirimu. Entah itu kekayaan, kecerdasan, kecantikan, bahkan uang receh yang kau miliki sekalipun. Banyak orang di luar sana yang tidak seberuntung kalian, dan masih mengharapkan sedikit uang receh.
Tunggu, bukan bermaksud untuk menyuruh berbagi dengan uang receh tentunya. Pada dasarnya, berbagi bukan didasari atas seberapa banyak kau mengeluarkan jumlah nominalmu itu, berbagi hanya bisa dinilai dari seberapa ikhlaskah apa yang kau bagikan kepada saudara-saudaramu yang membutuhkan. Akankah lebih indah lagi bila hidup kita dihiasi dengan saling berbagi kepada sesama, bukankah itu akan menambah koleksi warna dalam hidup kita? (: 
 7o2cgi29hfd1rz0jmseod6zpglra5rk3_large 

Tumblr_mb4rq69xv51qitv4to1_500_large

Tidak ada komentar:

Posting Komentar