Ini adalah sebuah kisah di mana receh menjadi yang paling
dihargai di dunia ini. Apa? Receh? Maksudnya, uang receh seratus rupiah, dua
ratus rupiah, dan lima ratus rupiah itukah? Ya, uang recehan itu.
Ketika
itu pagi mulai menemani seorang nenek tua yang tidur di emperan sebuah toko.
Wajar saja, dia sudah tidak mempunyai tempat tinggal dan anak-anaknya tidak
lagi peduli terhadapnya. Sang nenek sudah tidak mempunyai harta benda apapun,
dengan berbekal beberapa helai pakaian, dan uang hasil pemberian orang-orang
yang ikhlas, dia hidup. Ya, dia bahkan hanya bisa hidup dari meminta-minta.
Bayangkan saja, seorang nenek tua yang renta, tidak memiliki tempat tinggal dan
bahkan ditelantarkan oleh anaknya sendiri. Sekarang hidupnya bagai sebatang
kara, dan yang bisa dia lakukan hanya bersyukur dengan cara bertahan sampai
pada saat Tuhan memanggilnya.
Saat itu sang pemilik toko ingin memulai usahanya, dia sangat
kaget karena tiba-tiba sesosok tubuh renta terbaring di depan tokonya. Bisa
saja, dia mengusir sang nenek dan mendapatkan kembali tokonya dalam keadaan
bersih dan bisa bekerja dengan leluasa. Tapi tidak, pemilik toko justru memberi
nenek itu sebungkus nasi dan beberapa kilogram beras serta uang recehan. Ya, beberapa
uang receh.
Kalian bebas menggambarkan, apa yang sebenarnya pemilik toko
pikirkan, kenapa dia memberi uang receh dalam jumlah yang besar, kenapa tidak
uang ratusan ribu yang bahkan satu lembar akan sangat cukup untuk sang nenek.
Dan dari sinilah, kisah uang receh dimulai.
“Maaf mengganggu tidur anda yang
nyaman, nek. Mungkin sedikit dari saya ini dapat membantu anda kelak.” Sapa
sang pemilik toko dengan halus.
“Terima kasih, Tuan yang baik. Sungguh
Tuhan akan membalas kebaikan anda. Ini sudah lebih dari cukup untuk saya.”
Balas sang nenek.
“Sama-sama nek.” Balasnya dengan penuh
senyum.
Tapi ketika sang nenek beranjak dari toko tersebut, anak dari
pemilik toko muncul dan menghardiknya. Entah apa yang dipikirkan anak itu, dia
tiba-tiba meneriakinya dan menghardiknya mentah-mentah.
“Dasar nenek tua bangka. Kenapa tidur
di depan tokoku dan mengganggu bisnis Ayah. Cepat pergi dan jangan
berani-berani tidur di sini lagi!” hardiknya.
“Sayang, kenapa kau berkata kasar
seperti itu, nenek itu tidak mengganggu bisnis Ayah.” Ungkap sang pemilik toko.
“Tidak Yah, kalau tidak diperlakukan
seperti ini, aku yakin bahwa dia akan kembali lagi ke sini,tidur dan meminta
makanan juga uang lagi. Dia akan melakukan itu setiap hari, dan lama-lama akan
mengganggu bisnis toko Ayah ini. Lebih baik langsung saja beri dia uang seratus
ribu dan bilang padanya agar jangan pernah kembali lagi ke sini.” Ungkap sang
anak sambil melemparkan uang seratus ribu.
Tiba-tiba nenek itu mengambil uang
yang dilemparkan sang anak, dan mengembalikannya. Sambil menahan sakit hati
sang nenek itupun berkata,
“Tidak nak, kau salah. Tidak semua orang memandang uang dari
segi nominalnya. Mungkin kau benar aku seorang pengemis, tapi aku tetap
manusia. Manusia yang bermartabat dan memiliki harga diri. Nenek minta maaf
jika kau merasa nenek telah mengganggu bisnis ayahmu, nenek tidak bermaksud
seperti itu.” Dan nenek itu pun pergi dengan membawa uang recehan yang pemilik
toko itu beri.
“Benar, nak. Ayah tidak menganggap nenek itu mengganggu bisnis
Ayah. Dan kamu perlu tahu bahwa nenek itupun mengganggap bahwa yang Ayah
berikan padanya itu sudah lebih dari cukup. Memang itu adalah bantuan yang
kecil bagi ayah, tapi itu adalah anugerah yang begitu besar untuk sang nenek
yang sangat membutuhkan makan dan uang. Ini adalah masalah memberi kepada yang
membutuhkan dengan rasa ikhlas dan tanpa pamrih. Apa kamu mengerti?” Sang ayah
menjelaskan dengan bijak kepada sang anak.
Dari sinilah, uang receh menjadi yang sangat berharga melebihi
apapun di dunia. Mungkin orang-orang akan menganggap bahwa banyak orang berbagi
namun seminimal mungkin, yaitu dengan memberi uang receh untuk para pengemis. Uang
receh dianggap yang paling mudah keluar bagi para saudara yang membutuhkan. Tapi,
bukan itu yang jadi intinya. Berbagi bukan dilihat dari segi nominalnya,
mungkin bagi kita uang receh itu tidak berguna, tapi bagi yang membutuhkan itu
akan menjadi hal yang paling diinginkan. Apalagi uang receh yang diberikan secara
ikhlas dan tanpa pamrih.
Jadi cobalah merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang kau
miliki sekarang, itu akan memunculkan rasa bahagia pada dirimu. Entah itu
kekayaan, kecerdasan, kecantikan, bahkan uang receh yang kau miliki sekalipun.
Banyak orang di luar sana yang tidak seberuntung kalian, dan masih mengharapkan
sedikit uang receh.
Tunggu, bukan bermaksud untuk menyuruh berbagi dengan uang
receh tentunya. Pada dasarnya, berbagi bukan didasari atas seberapa banyak kau
mengeluarkan jumlah nominalmu itu, berbagi hanya bisa dinilai dari seberapa
ikhlaskah apa yang kau bagikan kepada saudara-saudaramu yang membutuhkan.
Akankah lebih indah lagi bila hidup kita dihiasi dengan saling berbagi kepada
sesama, bukankah itu akan menambah koleksi warna dalam hidup kita? (:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar